Return to site

The Time When I Realised My (Current) Life Purpose

4 Minutes Read.

It's a love-hate relationship.
Orang bilang, saat kita masih kecil, lingkungan dimana kita tumbuh menjadi salah satu faktor kunci dalam pembentukkan karakteristik kita. Namun saat kita beranjak dewasa, manusia kemudian membentuk lingkungannya sedemikian rupa supaya sesuai dengan preferensinya.
I grew up in a common-conservative-type Indonesian family: semua anggota keluarga memeluk agama yang sama; kebanyakan anggota keluarga berasal dari suku yang sama; selain harus rajin beribadah, tujuan hidup kita adalah untuk sukses secara karir dan materi; and most importantly, everything that is different from that way of life... IS DEAD WRONG.
Little Zia, the master of duck face :)
Little Zia, the master of duck face :)
Aku tumbuh seperti remaja Indonesia pada umumnya, yang tidak terlalu memikirkan akan jadi apa nanti, atau mempertanyakan apa mimpi terbesar dalam hidupku, atau mencari jawaban kenapa aku lahir ke dunia ini.
Setiap kali aku mempertanyakan hal-hal tadi, orang dewasa biasanya dengan singkat memberiku satu jawaban simpel, "Gak usah dipikirin".
But then, why God has gifted me this brain?
Seperti remaja pada umumnya, aku selalu berusaha buat dapet nilai bagus di setiap ujian kelulusan sekolah. Menariknya di akhir jenjang SMA, saat sibuk pilih-pilih jurusan kuliah, aku mulai mempertanyakan diri sendiri, apakah hidup itu memang harus seperti ini? Mudah ditebak? Ujian masuk kuliah - lalu kuliah di universitas favorit - lalu meniti karir yang memberikan tunjangan finansial yang tinggi - menikah - punya anak - pensiun - dan kemudian... mati?
Wouldn't that make life become one hell boring ride?
Pada tahun ketiga kuliah, aku cukup beruntung karena dapet beasiswa dari Pemerintah Turki untuk belajar bahasa Turki langsung di negaranya. Senengnya bukan main, karena hal tersebut bakal jadi kali pertama aku terbang dan menginjakkan kaki di luar negeri. Bagian terbaiknya tentu saja karena aku tidak keluar uang sepeserpun. :)
First time to fly :)
Sesampainya disana, ternyata kenyataan yang ada jauh dari apa yang aku bayangkan. Aku pikir karena Turki masih sama-sama negara yang didominasi muslim, suasananya akan mirip-mirip dengan Indonesia sehingga akan mudah bagiku untuk beradaptasi. Nyatanya, penggunaan atribut keagamaan banyak dilarang di sekolah/universitas; orang-orang berciuman secara bebas di pinggir jalan; dan tempat makan tetep buka di siang hari selama bulan puasa. Syiok haha karena kenyataannya tidak sesuai ekspektasi.
Aku kemudian mulai sering bepergian dan tinggal di berbagai tempat selain tempatku lahir - Bandung. Cukup drastis rasanya dari yang ga pernah kemana-mana, bahkan ke kota lain pun jarang selama 20 tahun pertama, terus tiba-tiba 5 tahun belakangan ini pindah-pindah terus. Selain tentunya menyenangkan karena bisa ngunjungin tempat-tempat yang dulu cuma bisa liat di TV, sebenernya yang paling bermakna adalah perubahan cara pandangku tentang hidup.
From only thinking life had only 1 particular way to be lived, I then realised the infinite possibilities my life could become.
By having this realisation, every time I came back to Indonesia, I became unhappy. Ada fase dimana setiap kembali ke Indonesia rasanya ga betah banget. I felt like I wasn't born for this environment and the perspective of life that is commonly found in Indonesia. All the chaos, corruption, shallow way of thinking, racism, you name it. Aku berfikir satu-satunya jalan untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik adalah dengan hidup di luar negeri.
Dreaming about that fresh air and rubbish-free nature...
So then... I was running away from the 'reality'. I kept traveling, and left my university degree hanging. I thought the only way for me to be happy is to not to live in Indonesia, or even if it's Indonesia, I need to live in a place where I don't need to hide my true self from the world. A place where no one try to box me in certain way, where I can fully express myself, and most importantly, a place where I can explore all the hidden potential within me.
Tapi kemudian, aku mulai bertanya pada diriku sendiri, sampai kapan mau kabur terus? At the end, there's a reality back there that need to be faced.
"It's only about time, Zia."
I then came up to my answer about why did I born in my 'normal' Indonesian family, yet lucky enough to learn abundance of wisdom by traveling the world. Apparently, it's the same finding of my observation by immersing with the cultures and the local people that I encountered on my journey.
The answer is that everyone is born for its own unique purpose.
Seperti semua hal yang ada di dunia ini, yang punya makna dan arti atas keberadaannya, aku pun lahir untuk sebuah makna dan peran di kehidupan ini. If we forgot how special we are, no matter how small or big our role is, think of a grain of sand. How meaningful it is if a grain of sand enter our eyes :) Atau misalnya sebuah meja dengan empat kaki, yang jika satu kaki patah, maka mejanya ga akan berdiri secara sempurna. Semua orang punya peran penting dalam kehidupan ini, ga peduli besar atau kecil.
So I guess for now, my current purpose is to share with fellow Indonesian about all the great wisdom and knowledge that I've been learning through my traveling. I might not necessary always in Indonesia to share this back with you, but thank God, we have internet! :)
I would also be happy to hear from you about your unique purpose in life, or something that you really passionate about by leaving me a comment below or send me a personal message here. If you haven't found out, no need to worry! I've been through that, all the great people have been through that, everyone has been through that! It's all about time and place, and to actually keep doing it and learn from the mistakes.
Love,
Zia
PS: Don't want to miss my next post? Sign up here :)
PPS: Read my previous blog post here.
All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OK